Image of Akses Keadilan dan Migrasi Global: Kisah Perempuan Indonesia Pekerja Domestik di Uni Emirat Arab (7362)

Book

Akses Keadilan dan Migrasi Global: Kisah Perempuan Indonesia Pekerja Domestik di Uni Emirat Arab (7362)



Mereka diinginkan karena beragama sama, rajin bekerja, patuh, dan mau dibayar murah. Akan tetapi dalam waktu yang sama mereka ditempatkan sebagai orang yang berbeda, di-liyan-kan, dilekati stereotipe dan stigma sebagai perempuan murahan, terbelakang, dan bodoh. Mengapa? Karena mereka berasal dari ras, etnik, nasionaliti, kelas yang berbeda, dan perempuan!


Tanah Arab sebagai tujuan kerja memang menjadi pilihan mereka, karena berbagai harapan yang terkait dengan identitas religiositas. Tanah Arab dipandang sebagai Tanah Harapan, Tanah Suci, Namun mereka sama sekali tidak memiliki pemahaman tentang konteks sosial dan budaya Arab, suatu pengetahuan yang sangat penting sebelum berangkat. Di samping tentu saja ketiadaan pengetahuan tentang hukum yang bisa diakses untuk melindungi mereka di negara tujuan. Mereka menjadi terkejut karena ternyata justru di Tanah Harapan, mereka tidak memperoleh kesempatan bahkan untuk bersembahyang lima waktu, suatu praktik keagamaan yang biasa mereka lakukan di kampung halaman. Beban kerja yang berlebihan dan jam kerja yang panjang adalah salah satu kenyataan yang harus mereka hadapi.


Perjalanan migrasi bukan hanya persoalan tarikan remitansi yang begitu kuat, tetapi juga merupakan konstruksi kelindan sosial yang terbangun di antara perempuan dengan berbagai pihak yang terkait dalam "bisnis migrasi". Migrasi para perempuan telah menciptakan mata rantai kehidupan bagi banyak orang sejak dari kampung halaman sampai negara tujuan. Konstribusi mereka di pasar global berupa menggantikan peran produksi dan reproduksi perempuan di negara kaya. Karena keberadaan mereka, perempuan di negara kaya bisa melepaskan diri dari peran-peran tradisional selama berabad-abad, dan bisa menikmati dunia materi: barang, jasa, dan peluang-peluang, yang disediakan oleh ekonomi modern global.


Konstruksi budaya dan hukum tentang "siapa perempuan pekerja domestik" itu merefleksikan akses keadilan bagi mereka. Keadilan tidak identik dengan konteks "berhasil", yang dimaknai secara sempit dan dangkal sebatas "membawa pulang gaji dengan selamat". Keadilan substansial adalah memberi perlindungan hukum dan menjamin hak-hak dasar mereka sebagai manusia yang bekerja. Studi ini mengkaji akses keadilan bagi perempuan pekerja migran domestik, dengan keempat pilarnya: (1) tersedianya hukum yang menjamin keadilan, (2) pengetahuan hukum, (3) identitas hukum, dan (4) bantuan hukum.


Ketersediaan

7362aINA XIV.80 Irianto/2011KANTOR PERWAKILAN KOMNAS HAM AcehTersedia namun tidak untuk dipinjamkan - Missing
7362bINA XIV.80 Irianto/2011KANTOR PERWAKILAN KOMNAS HAM Sumatera BaratTersedia
7362cINA XIV.80 Irianto/2011KANTOR PERWAKILAN KOMNAS HAM Kalimantan BaratTersedia
7362dINA XIV.80 Irianto/2011KANTOR PERWAKILAN KOMNAS HAM Sulawesi TengahTersedia
7362eINA XIV.80 Irianto/2011KANTOR PERWAKILAN KOMNAS HAM MalukuTersedia
7362fINA XIV.80 Irianto/2011KANTOR PERWAKILAN KOMNAS HAM PapuaTersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
INA XIV.80 Irianto/2011
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia : Jakarta.,
Deskripsi Fisik
xxiii, 326 p.; 24 x 16 cm; ill.
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-979-461-782-3
Klasifikasi
INA XIV.80
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this